oleh

Menceburkan Pada Ujian

-KHAZANAH-7 views

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Seorang pemuda bertemu seorang ulama salaf. Dia menangis sedih karena dicabutnya ujian dari Allah. Sebelumnya sakit terus menderanya. Lalu sembuh, sekarang dia sehat dan kuat. Namun mengapa sehat justru membuatnya sedih? Mengapa kuat membuatnya sedih? Bukankah semua orang menginginkan kesehatan dan kekuatan? Memang selalu saja ada yang berfikir berbeda di kolong jagat ini. Seorang wanita berpenyakit epilepsi, menghadap ke Rasulullah saw. Mau sembuh atau sehat? Bila tetap sakit akan mendapatkan surga. Akhirnya dia memilih tetap sakit. Memilih terus dalam ujian atau penempaan?

Nabi Ayub malu untuk mengadukan sakitnya kepada Allah. Malu menengadahkan tangannya ke langit Nabi Ibrahim saat dikelilingi oleh api hanya berkata, “Ya Allah, Engkaulah Pelindung kami.” Saat Rasulullah saw dikejar dan disambit dengan batu oleh penduduk Thaif dia hanya berkata, “Ya Allah, ku adukan kelemahanku, kekuranganku, kerendahanku. Ku mohon pengampunan-Mu, perlindungan-Mu, keridhaaan-Mu.” Setiap yang menyulitkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Mengapa seringkali menjadi keluh kesah?

Saat kesulitan terus menghimpit doa yang terucap, “Tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sesungguhnya seluruhnya milik Allah dan akan kembali kepada Allah.” Jangan abaikan peluang kesulitan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semua kisah para Nabi dan Rasul memuat perjuangan, jihad dan dakwah. Mereka menceburkan diri ke ranah ujian bukan lari dari ujian. Mereka menikmati ujian yang membuat kesyahduan berdialog dengan Allah.

Saat kesulitan melanda, yang pertama kali diketuk dan sering kali didatangi adalah pintu manusia. Bagaimana bisa meningkatkan nilai kehambaan? Bagaimana bisa merendahkan diri pada Allah? Kesulitan justru melahirkan tuhan baru. Mendatangi orang yang telah sukses, investor, konsultan, coach, trainer dan orang hebat lainnya. Mendatangi dokter, terapist, asuransi dan rumah sakit. Seolah-olah kesembuhan ada ditangan mereka. Mengapa bukan bersegera mendatangi Allah? Mengetuk pintu langit? Memuji Allah? Mengapa tidak menjadi shalat dan sabar sebagai penolong?

Shalat dan sabar itulah sarana utama dan pertama turunnya pertolongan Allah. Lalu bertanyalah dan bermusyawarahlah dengan ahlinya. Shalat mengkoneksikan jalinan dengan Allah. Membuka ilmu-Nya. Membuka Maha Mengetahui-Nya. Membuka kekuasaan-Nya karena Dialah pemilik kerajaan dan kembalinya semua urusan. Sabar penempaan jati diri agar kapasitas diri sesuai dengan ujian. Sabar terus menekuni akar persoalan, solusi, mencoba dan berjuang segala ilham yang masuk ke hati dan akal.

Bertanyalah dan bermusyawarahlah dengan ahlinya. Ini tanda ketawadhuan. Ini tanda kerendahan hati. Ini cara mendapat ilmu dan keahlian. Banyak bertanya dan mendengarkan. Banyak menerima masukan, saran dan usulan. Tampunglah semuanya. Kelak semuanya akan bermanfaat. Hari ini belum, suatu saat usulan mereka akan cocok dengan persoalan yang datang kemudian. Setiap orang memiliki kapasitasnya tersendiri.

Persoalan hanya bisa diselesaikan dengan kerendahan hati. Kerendahan hati kepada Allah. Kerendahan hati kepada diri sendiri. Dan kerendahan hati dengan bertanya dan mendengarkan. Lalu ambillah keputusan. Lalu berjuanglah.

Komentar

News Feed