oleh

Begitu Melimpah Nikmat Allah… Maka Berbagilah…!(2)

Nikmat tersebut Allah berikan sejak dulu, hingga saat ini dan akan terus diberikan sampai pada masa yang akan datang.

Dua model kesadaran ini, bahwa Allah yang memberikan rezeki dan rezeki dari Allah tidak bisa dibandingkan dengan yang lain perlu ditanamkan dengan baik. Jika sudah tertanam dalam diri manusia maka akan memberikan pengaruh yang besar pada penyikapan saat menerima perintah ber-qurban yang Allah sebutkan pada rangkaian ayat berikutnya.

Cerita fiksi sederhana berikut dapat memberikan gambaran yang lebih nyata. Pada suatu hari si A mendapatkan hadiah sebuah mobil dari si B. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba si B jatuh miskin dan meminta pertolongan kepada si A agar membelikannya sepeda motor. Hal ini tentu saja akan direspon cepat oleh si A tanpa keberatan untuk segera memenuhi permintaan si B yang meminta dibelikan sepeda motor. Kenapa hal tersbeut tidak terlalu berat bagi si B? Karena si B memiliki kesadaran bahwa orang yang meminta sepeda motor telah memberikan sesuatu yang lebih besar dari apa yang diminta. Berbeda jika si B meminta hal tersebut kepada orang lain yang belum pernah menerima pemberiannya. Perintah berqurban akan terasa ringan bagi orang yang memiliki kesadaran betapa melimpah rezeki yang Allah sudah berikan kepadanya.

Di samping penyebutan nikmat yang banyak, perintah ber-qurban juga diiringi dengan qudwah hasanah (teladan yang baik) yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, kekasih Allah yang harus membuktikan ketundukannya terhadap perintah Allah dengan mengikhlaskan Nabi Ismail untuk disembelih. Nabi Ismail sendiri adalah anak yang sudah lama dinanti-nantikan. Bisa dibayangkan kecintaan seorang bapak kepada anak semata-wayang yang sudah lama dinanti. Lebih dari itu, pada saat diperintahkan usia Nabi Ismail sekitar 10 tahun, usia di mana seorang anak sedang masa “lincah”-nya. Akan tetapi semua itu dijalani oleh Nabi Ibrahim dengan penuh ketundukan kepada Allah. Nabi Ibrahim telah berhasil membuktikan bahwa kecintaannya kepada anak tidak mengalahkan kecintaannya kepada Allah. Hal itu yang kemudian menjadi ciri seorang yang sejati dalam imannya. Dalam surat al-Baqarah ayat 165 yang berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.”

Seluruh proses perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim beserta keluarganya sudah cukup menunjukkan kerelaan berqurban bukan dengan sebagian kecil nikmat yang ia miliki, tetapi dengan mengorbankan nikmat terbaik yang Allah berikan kepadanya. Jika permintaan Allah kepada Nabi Ibrahim yang begitu besar dan ia mampu melaksanakannya, maka perintah Allah kepada umat Islam untuk ber-qurban dengan yang lebih kecil dari itu, tentu saja jauh lebih ringan untuk dilaksanakan.

Dengan demikian semakin lengkap betapa ringannya perintah qurban yang Allah sampaikan kepada kita dengan mengingat begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan, diiringi dengan contoh teladan yang luar biasa dari Nabi Ibrahim beserta keluarganya. Sudah saatnya setiap Muslim tidak membiarkan setiap momen ber-qurban 10-13 Zulhijjah berlalu begitu saja tanpa ada pengorbanan dari apa yang kita miliki. Semoga qurban ini betul-betul mengantarkan kita lebih “qurban” (dekat) lagi kepada Allah dan semakin “qurban” (dekat) juga kepada sesama manusia.

Komentar

News Feed