oleh

Begitu Melimpah Nikmat Allah… Maka Berbagilah…!(1)

Memberi dan mengeluarkan sebagian dari apa yang dimiliki merupakan aktivitas yang berat bagi manusia. Dengan pertanyaan sederhana, praktek “memberi” menjadi sesuatu yang mustahil dilakukan. “Bagaimana mungkin harta yang sudah dikumpulkan secara halal dan membutuhkan perjuangan yang panjang untuk meraihnya, diberikan begitu saja kepada orang lain?” Itulah sifat dasar manusia, ingin memiliki apa yang tidak dimiliki dengan mendapatkan sebanyak mungkin dan menjaga apa yang sudah dimiliki dengan tidak memberikannya kepada orang lain. Bahkan dalam surat al-Lumazah ayat 2 dan 3, digambarkan betapa manusia selalu menghitung-hitung harta yang dikumpulkannya dan menyangka bahwa harta itu akan membuat hidupnya abadi.

Qurban menjadi salah satu contoh aktivitas memberi yang ada dalam Islam. Cukup menarik jika dikaji bagaimana rangkaian ayat dalam surat al-Kautsar ayat 1 dan 2 yang berisi perintah ber-qurban. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَر فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.

Maka shalatlah karena Tuhanmu dan sembelihlah (hewan qurban)!”

Ada dua pesan penting dari ayat pertama surat al-Kautsar yang tujuannya adalah membangun kesadaran manusia. Kesadaran pertama yang hendak dibangun adalah pengingatan agar manusia tidak mengalami “kelupaan” bahwa rezeki dan nikmat yang berlimpah itu adalah anugerah Allah semata. Sementara sebagian manusia yang lain memiliki persepsi berbeda dengan merasa bahwa semua didapatkan adalah hasil dari usaha dan jerih-payahnya semata. Fenomena ini yang kemudian dalam sejarah menjadi jalan kehancuran manusia terkaya selevel Qarun yang ungkapan “kelupaan”-nya diabadikan dalam surat al-Qashash ayat 78 yang berbunyi:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”

Hal tersebut yang kemudian mengantarkan Qarun ditenggelamkan oleh Allah ke dalam bumi bersama seluruh hartanya, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Qashash ayat 81 . Kesadaran kedua yang hendak dibangun adalah apa yang terkandung dalam kata “al-Kautsar”. Ali al-Shabuni dalam “Shafwatu at-Tafasir” menyebutkan bahwa kata “al-Kautsar” adalah satu ungkapan yang menunjukkan puncak dari banyak, atau bisa disebut “sangat-sangat banyak sekali”. Kata tersebut menunjukkan betapa banyak nikmat yang Allah berikan meliputi keragaman nikmat berupa materi dan non materi. Nikmat yang Allah berikan tidak ada bandingannya sama sekali dan tidak ada duanya. (bersambung)

Komentar

News Feed