oleh

Optimisme, Kebesaran Allah, dan Syurga (Hikmah Isra Mi’raj Rasulullah SAW)

Abdul Ghoni

Dalam Sirah Nabawiyah dijelaskan bahwa sebelum Isra’ Mi’raj Nabi SAW mengalami dua ujian yang cukup besar. Ujian tersebut adalah peristiwa meninggalnya Sang Paman, Abu Thalib, yang kemudian dilanjutkan dengan meninggalnya sang istri tercinta, Khadijah. Keduanya terjadi pada tahun yang sama, yaitu tahun ke-10 kenabian yang kemudian disebut sebagai tahun kesedihan (‘amul huzn). Kedua tokoh tersebut merupakan representasi dari dua kekuatan vital dalam setiap gerakan. Keberadaan Abu Thalib yang banyak melindungi Nabi dari penindasan Kafir Quraisy merupakan representasi dari kekuatan militer. Tentu saja sangat berat, sebuah gerakan tanpa proteksi dari militer. Sementara Khadijah sebagai istri adalah penyandang dana dakwah yang sangat besar. Beliau merepresentasi kekuatan ekonomi yang menopang sebuah gerakan. Maka wajar jika sepeninggalnya kedua tokoh tersebut, perlakuan orang kafir Quraisy kepada Nabi dan para sahabat semakin keras.

Di antara bentuk perlakuan Kafir Quraisy kepada Nabi, diceritakan dalam kitab “Ar-Rahiq al-Makhtum”. Pernah suatu hari Nabi pulang ke rumah dengan penuh debu dan pasir di kepala beliau. Sesampai di rumah, Fatimah membersihkan kepala Nabi dari kotoran sambil bergumam, “Wahai Bapakku, sebelum meninggalnya Paman, belum pernah engkau diperlakukan seburuk ini oleh mereka. Akan tetapi hari ini mereka telah berani melakukannya”. Sepenggal kisah tersebut menunjukkan sudah sedemikian beraninya Kafir Quraisy untuk melakukan intimidasi terhadap Nabi agar berhenti dari aktivitas dakwahnya.

Begitu pun kondisi dunia saat ini yang sedang diuji oleh Allah melalui wabah virus yang luar biasa dahsyatnya. Sangat tipis jarak antara kehidupan dan kematian dalam diri setiap orang. Sudah lebih dari 10.000 meninggal dunia hanya dalam beberapa bulan ini di lebih dari 150 negara. Negeri kita, Indonesia pun sedang mengalami hal yang sama.
Namun demikian, di balik ujian-ujian yang begitu berat dirasakan oleh Nabi, Allah menggantinya dengan sesuatu yang sangat luar biasa. Terbukti benar apa yang dijanjikan Allah dalam surat al-Insyirah ayat 5, yang berbunyi:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Ayat tersebut menunjukkan bahwa kemudahan selalu datang pasca kesulitan. Solusi selalu datang pasca permasalahan. Bahkan demi menekankan kebenaran kandungannya, ayat tersebut terlebih dahulu diawali dengan kata “inna” (sesungguhnya). yang menunjukkan kesempurnaan validitas isinya. Lebih dari itu, ayat tersebut ditekankan kebenaran isinya dengan pengulangan secara penuh ayat tersebut dan disebutkan pada ayat yang ke-6.

Pada umumnya, bentuk penekanan pada satu susunan kalimat, akan dipilih kata tertentu saja yang membutuhkan. Akan tetapi pada ayat tersebut, Allah menekankan dalam bentuk satu kalimat secara penuh, sehingga keseluruhan kata diulangi dan ditekankan kebenarannya. Dengan demikian ayat di atas diberikan penekanan dalam bentuk “inna” dan “taukid”. Adapun bentuk kemudahan yang Allah berikan kepada Rasulullah adalah berupa perjalanan Nabi dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebagaimana mukjizat pada umumnya, peristiwa tersebut ditujukan untuk melemahkan seluruh kemampuan dan kekuatan manusia.

Satu poin besar yang dapat dijadikan Ibrah dari peristiwa ini adalah adanya optimisme dalam setiap situasi dan kondisi. Setiap Muslim harus meyakini bahwa kemudahan selalu datang mengiringi kesulitan yang dihadapi orang-orang yang beriman. Jalan keluar selalu datang saat seseorang menghadapi berbagai masalah, betatapapun sulitnya. Allah sudah menyiapkan kemudahan dan jalan keluar pada setiap fase kehidupan manusia. Hal tersebut termaktub dalam bagian surat ath-Thalaq ayat 2 yang berbunyi:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Sebuah keyakinan akan adanya kemudahan setelah kesulitan dan keyakinan adanya jalan keluar dalam setiap permasalahan akan menghadirkan optimisme dalam diri setiap orang yang menjalani kehidupan. Dalam kehidupan sosial, optimisme sendiri memberikan dampak positif pada diri pelakunya sendiri. Optimisme merupakan bagian dari proses bangkit kembali setelah seseorang mengalami keterperukan. Hal ini sejalan dengan psikologi positif yang mencoba mengantisipasi (melakukan tindakan preventif) berbagai macam penyakit kejiwaan pada diri manusia, yang salah satu poin besarnya adalah melalui penanaman optimisme.

Optimisme yang harus dimiliki manusia, tidak hanya terkait dengan urusan dunia. Optimisme lebih besar dibutuhkan terkait dengan kebahagiaan manusia dalam kehidupan akhirat. Peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan kesaksian beteapa setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik dalam kehidupan hakiki yang akan dijalani. Terlepas dari kelas ekonomi, sosial, dan politik, setiap orang memiliki peluang untuk mendapatkan happy ending-nya saat dimasukkan ke dalam syurga dan diselamatkan dari neraka. Hal ini tergambar melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Nabi diperdengarkan suara terompah Bilal di syurga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Nabi bersabda:

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لبلال عند صلاة الفجر يا بلال حدثني بأرجى عمل عملته في الإسلام فإني سمعت دف نعليك بين يدي في الجنة قال ما عملت عملا أرجى عندي أني لم أتطهر طهورا في ساعة ليل أو نهار إلا صليت بذلك الطهور

“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau amalkan dalam Islam, karena aku sungguh telah mendengar gemerincing sandalmu di tengah-tengahku dalam surga.”

Bilal berkata, “Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling kuharapkan di sisiku, hanya aku tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku shalat bersama wudhu itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku.

Bilal pada awalnya adalah seorang budak. Pada masa jahiliyah, seseorang yang menjadi budak akan sama kedudukannya dengan hewan. Seorang budak tidak memiliki dirinya sendiri. Ia diperjualbelikan laksana hewan di berbagai tempat transaksi seperti pasar. Namun kedudukannya di sisi Allah begitu mulia setelah dia menjadi Muslim. Seorang budak dari Ethiopia dengan berbagai identitas keterbelakangan dan kemiskinannya, ternyata dapat menggapai kesuksesan tertinggi di sisi Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal berbagai stratifikasi sosial selain ketundukan seseorang kepada Allah. Apapun keadaan seseorang sangat potensial untuk mendapatkan kesuksesan sejatinya.

Dengan demikian Isra’ Mi’raj juga memberikan pesan akan kesetaraan seseorang di hadapan Allah. Setiap orang berhak mendapatkan syurga dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mereka dimiliki. Manusia dengan segala ujian kesulitannya memiliki kesempatan untuk meraih syurga. Kesulitan yang dialami seseorang dapat berbuah syurga dengan sikapnya yang tepat. Kesabaran saat kesulitan akan berbuah amal shaleh. Begitu pula dengan kesenangan dan kemudahan yang dapat membuahkan amal shaleh dengan rasa syukur sebagai bentuk penyikapan yang tepat. Semakin tunduknya seseorang kepada Allah dengan kelimpahan harta yang dimiliki, akan membawa kemuliaan pada dirinya.

Tidak kalah pentingnya, saat peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah menerima perintah shalat 5 waktu. Jika diperhatikan ternyata shalat adalah bagian dari solusi yang Allah turunkan kepada manusia. Dalam surat al-Baqarah ayat 153, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Hal ini diperkuat dengan kebiasaan Nabi yang bersegera melaksanakan shalat ketika ada permasalahan hidup yang dihadapi, Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi bersabda:
Dari sahabat Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
Bila kedatangan masalah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat.

Dalam hadits lain juga disebutkan betapa dalam shalat tersebut ada posisi di mana manusia begitu dekat dengan Allah SWT. Dalam hadits Nabi dalam riwayat Imam Muslim yang berbunyi:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Seorang hamba akan menjadi paling dekat dengan Rabb-nya saat ia sedang sujud. Maka, perbanyaklah doa

Semoga Allah memberikan kita semua kekuatan untuk semakin dekat kepada-Nya, sehingga semua keadaan yang di alami di dunia akan selalu berdampak positif pada diri setiap orang beriman sebagaimana karakteristik yang disebutkan dalam hadits.

Semoga bermanfaat!

Komentar

News Feed