oleh

Riset Sebuah Tafakur

-KHAZANAH-7 views

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Rumah jadi laboratorium. Rumah menjadi lembaga riset informal. Seperti di Amerika, ada sebuah rumah menjadi riset
reaktor nuklir, dan berhasil.

Rumah dipenuhi ibadah tafakur. Meneliti sejarah. Meneliti tumbuhan herbal dan hewan peliharaan. Meneliti berbagai masakan. Tafakur itu lebih baik dari ribuan rakaat shalat Sunnah. Kemanfaatan tafakur melampaui ibadah yang dipenuhi kebodohan.

Budaya riset telah hilang. Pendahulu umat Islam, di rumahnya penuh dengan perpustakaan pribadi. Di rumahnya menjadi tempat penelitian yang menghasilkan karya ilmu pengetahuan. Saat ini, rumah hanya tempat tidur, makan, minum dan pelepas lelah. Dahulu, rumah adalah mercusuar ilmu pengetahuan.

Prinsip riset sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Prinsipnya, Tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini. Prinsip riset sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an, Allah akan menunjukkan jalan-jalan bagi mereka yang berjihad di jalan Allah. Allah akan mengilhamkan ilmu dan beragam terobosan ke dalam dada mukminin bila tujuan risetnya adalah kemanfaatan, jihad fisabillah serta keikhlasan.

Prinsip riset adalah bertebaran di muka bumi, perhatikan bagaimana Allah mengelola alam semesta. Prinsip riset adalah menemukan hukum-hukum Allah untuk kemanfaatan peradaban. Riset memang jarang langsung membuahkan hasil, namun sedetik meluangkan waktu untuk riset pahalanya menyamai ibadah sunah ribuan rakaat. Riset akan mengangkat derajat mukminin melebihi para ahli ibadah.

Kemanfaatan riset melampaui jaman. Bayangkan bila Muhammad al Fatih tidak membuat riset meriam terbesar di zamannya. Bayangkan bila Muhammad Al Fatih tidak menemukan teknologi benteng berjalan. Bayangkan bila Muhammad Al-Fatih tidak menyempurnakan teknologi mesiu untuk gerakan di bawah tanah dalam memenangkan Konstatinopel. Mimpi tentang Konstatinopel mungkin tidak pernah terwujud.

Bayangkan bila para ulama Islam terdahulu tidak melakukan riset. Apakah Eropa akan semaju sekarang? Apakah teknologi dunia akan semodern saat ini? Saat ini para ulama sibuk dengan khilafiah yang sejak dahulu sudah ada. Sibuk dengan beragam perbedaan. Sibuk dengan kajian ibadah formalitas yang sudah sangat jelas. Mengapa belum menyibukkan diri dengan beragam teknologi seperti yang sudah dilakukan para Wali Sanga?

Wali Sanga menemukan teknologi pengairan. Itulah mengapa pantai utara Jawa menjadi lumbung padi. Wali sanga menemukan teknologi pertanian memanfaatkan tenaga ternak untuk mengelola sawah. Wali Sanga menemukan teknologi seni dan kebudayaan. Bahkan animator pertama di dunia adalah Sunan Kalijaga. Karamah mereka muncul dalam sekala pribadi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita masih berkutat dalam persengketaan ibadah Formal. Sungguh jauh kualitasnya.

Risetlah, karena ini bagian dari Tafakur. Yang keutamaannya melebihi ribuan ibadah sunah. Risetlah, karena ini bagian karakter Ulilalbab. Risetlah, karena suatu pagi Rasulullah saw sedang menangis saat ditemui Bilal bin Rabah karena lemahnya kekuatan tafakur manusia.

Komentar

News Feed