oleh

Menuduh Allah

-KHAZANAH-6 views

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Saat kekayaan semakin bertambah. Saat pundi-pundi uang terus berdatang dari beragam penjuru secara tak terduga. Siapa yang diingat? Kehebatan diri? Kepintaran diri? Kesaktian ilmu dan strategi? Luasnya jaringan bisnis? Kepiawaian negosiasi? Atau segudang hal yang berasal darimu? Mengapa klaim semua prestasi dan kesuksesan selalu bersumber dari kehebatan diri?

Saat kebangkrutan melanda. Saat kekayaan amblas. Mengapa berkata, “Ini ujian dari Allah?” Saat kekurangan harta, tangan kita tertuju pada Allah. Semua sebab tertuju pada Allah. Tak ada yang tertuju pada diri. Betapa mudahnya menuduh Allah dengan prasangka yang buruk. Betapa cepatnya mengklaim seluruh keberhasilan dan kesuksesan dari kehebatan diri.

Saat sehat, semua karena pola makan. Berolahraga yang terjadwal. Menghindari makanan yang berkolestrol dan berminyak. Makan buah-buahan dan sayuran. Makan yang organik. Semua karena manajemen diri yang baik dan ketat. Semua karena diri.

Saat berbaring sakit. Saat tubuh lunglai. Mengapa berkata, “Semua ujian dari Allah?”. “Allah ingin menghapus dosa-dosa.” Begitu mudahnya membebankan seluruh yang tidak mengenakan kepada Allah? Allah menjadi sumber keburukan sedangkan diri sumber dari semua kebaikan?

Saat kekuasaan dalam genggaman. Semua karena kharisma diri. Ilmu kepemimpinan dan manajemen yang mumpuni. Strategi penggalangan suara yang luar biasa. Tim yang hebat dalam mempengaruhi opini. Semua keberhasilan selalu berasal dari dirinya.

Saat kekuasaan tercabut dari akarnya. Mulailah berkata, “Ini ujian dari Allah.” Juga berkata, “Inilah pilihan Allah yang terbaik.” Tak ada kalimat yang menyudutkan diri. Semua ketidakberdayaan karena keputusan Allah, bukan perbuatan dirinya.

Saat Nabi Sulaiman menjadi satu-satunya manusia di kolong jagat ini yang bisa menggabungkan kekayaan yang tak pernah tertandingi. Kekuasaan yang luasnya tak terhingga. Seluruh makhluk tunduk kepadanya. Dia berkata, “Semua keutamaan berasal dari sisi Allah.”

Saat Firaun berkuasa hanya di Mesir dan tidak pernah sakit. Dia berkata, “Akulah Tuhan.” Qarun berkata, “Semua kekayaan karena ilmuku.” Hamman sangat luas ilmunya maka dia pun membuat piramid untuk melihat Tuhan dilangit. Itulah perbedaan Nabi Sulaiman dengan Firaun dan Qarun. Seperti inikah karakter kita?

Semua tertuju pada diri bila berkaitan dengan kesuksesan. Semua kembali pada kehebatan diri bila berkaitan dengan prestasi. Bila sebaliknya, Allah yang menjadi tertuduh. Begitu sombongnya kita terhadap Allah? Begitu lancangnya kita menuduh Allah? Bisa jadi kita adalah Firaun berbaju baru.

Komentar

News Feed