oleh

Menghisab Harta

-KHAZANAH-11 views

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Hisab yang terberat itu soal harta. Darimana dan untuk apa? Sumber dan penggunaannya disandingkan sekaligus. Mengelola harta memang harus dua sisi. Keberkahan harta memang harus disorot dari semua sisi. Kehancuran harta, bila mengabaikan satu sisi saja, apalagi mengabaikan keduanya?

Hisab harta mengapa rumit? Karena dia akan menjadi darah daging. Menjadi sel otak, jantung, hati dan seluruh komponen tubuh. Jiwa walaupun berbeda dengan tubuh, tapi kebersihan jiwa tergantung dari cara perolehan harta. Tak bisa menjadi shaleh hanya ibadah saja? Tak bisa bertakwa hanya mengandalkan ibadah ritual saja? Aliran harta itu begitu rumit hingga singgah menjadi milik kita.

Banyak penipuan, penghianatan, ketidakamanahan dalam harta. Banyak kebohongan dan ketidakjujuran. Banyak persaingan yang tak sehat. Banyak ketidakridhaan. Banyak kezaliman yang tak disadari. Aliran harta harus berlandaskan keridhaan dan mekanisme syariat yang benar.

Begitu rumitnya. Begitu banyak kemungkinan tidak bersihnya harta. Maka ada mekanisme pembersihan harta dengan zakat dan sedekah. Pembersihan jiwa pun dilakukan dengan mengeluarkan harta. Keteledoran diri pun dibersihkan dengan harta. Andai diri terus dirundung persoalan yang tak pernah berhenti, saat taubat dan istighfar tak bisa menghentikan persoalan? Coba bersihkan harta kita.

Bila ibadah tak bisa memberikan kenikmatan. Bila mata tak bisa mengeluarkan air mata takut kepada Allah. Bila mata, telinga dan hati tak bisa bertafakur. Bila lisan keluh untuk berdzikir. Bila mendatangi orang soleh tak bisa menggugah cinta. Berarti ada masalah dengan kebersihan dan pengelolaan harta kita.

Abu Bakar harus mengeluarkan makanan yang sudah masuk ke dalam perut dengan memuntahkannya, ketika tak jelas darimana makanan tersebut. Ayah Abdullah Ibnu Mubarak harus mencari pemilik delima untuk meminta keridhaannya karena memakan delima yang ditemukan di pinggir jalan. Banyak ulama salaf yang tertahan shalat malam karena rumput makanan ternaknya tak jelas diambil dari kebun siapa.

Kemalasan ibadah, ketidaknikmatan beribadah, bekunya hati, keluhnya lisan, tak bisa mencapai ilmu makrifat dan hakikat dan berbagai kesulitan hidup ini bisa jadi karena salah dalam kebersihan dan pengelolaan harta kita. Teliti dan telisiklah harta kita, darimana dan untuk apa? Agar ringan penghisaban di akhirat. Agar dunia terasa surga.

Komentar

News Feed