oleh

Sosok Abu Hasan Asy-Syadzili

-KHAZANAH-9 views

Sosok Abu Hasan Asy-Syadzili
Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Imam Abu Hasan Asy-Syadzili, sang pendiri tarekat Syadiliyah, salah satu muridnya adalah Ibnu Atthaillah pengarang induk kitab taswauf Al-Hikam. Bagaimana kesehariannya yang jarang terungkap?

Sang Murid, Ibnu Attaillah dalam kitab Al Hikam, menulis bahwa menjauhi dunia untuk fokus beribadah adalah bagian riya yang samar. Bagian nafsu yang samar. Bukankah tasawuf menjauhi dunia? Namun mengapa disebut sebagai riya dan nafsu yang samar? Ibnu Attaillah belajar pada gurunya.

Imam Syadziliah memberi prinsip hidup, “Kenalilah Allah (Makrifatullah), dan jadilah apa yang kamu mau.” Dengan makrifatullah, hati hamba akan selalu terpaut dan penuh cinta kepada-Nya, maka tidak ada yang datang kepadanya kecuali berbagai anugerah. Bila bermakrifat, maka interaksi dengan dunia dan syahwat tidak akan membahayakan akhiratnya.

Imam Syadziliah selalu berpakaian yang paling indah. Tubuhnya paling harum. Kendaraannya kuda yang terbaik. Mengapa? Karena muka bumi adalah hamparan masjid, tanah adalah tempat bersuci. Beliau ingin tampil sebaik mungkin di bumi ini, karena bumi hakikatnya adalah rumah Allah. Kemana pun menghadap maka sesungguhnya tengah menghadap Allah.

Para pecinta dunia, berpenampilan terbaik, berkendaraan terbaik untuk menunjukkan kekayaannya. Namun para sufi, tampil dengan yang terbaik untuk mengagungkan Allah. Malu bila Allah sudah memberikan karunia yang besar tetapi menghadap wajah Allah dengan pakaian dan kendaraan yang lusuh.

Makanlah dengan makanan yang terbaik. Imam Syadziliah berkata, “Tarekat itu bukan melalui metode kerahiban, apalagi dengan memakan gandum jelek dan kurma busuk, bukan pula dengan pakaian yang hina, namun tarekat itu dibangun atas kesabaran dalam menjalankan berbagai perintah dan yakin akan datangnya hidayah.

Sufi menjauhi bisnis? Imam Syadziliah adalah pebisnis. Dia fokus di pertanian dan peternakan. Memilik jaringan yang cukup banyak dan luas. Suatu saat beliau terlambat melakukan perjalanan, beliau berkata, “Sebab bertahannya kami karena tanaman kami. Kami harus menanam di tiga tempat yang berbeda.” Bila ingin menjadi muridnya salah satunya adalah kemandirian ekonomi. Beliau berkata, “Jika ingin menjadi muridku maka jangan meminta apa pun kepada siapa pun. Jika mendapatkan sesuatu yang tanpa diminta jangan diterima.”

Di usia tua, dalam keadaan buta dan tua renta, Imam Syadziliah bertempur menghadapi serbuan tentara Eropa yang ingin merampas Mesir. Pertempuran Mansuriyah, tentara Eropa dipimpin Louis IX memimpin penyerbuan. Akhirnya Louis IX berhasil ditahan dan tentara Eropa pun kalah. Di malam pertempuran sang imam bertemu dengan Rasulullah saw memberikan arahan bagaimana memenangkan pertempuran.

Iman Syadziliah sosok yang paripurna. Seorang mujahid, pebisnis, ulama, penasihat sultan juga sufi yang mencapai wali qutb.

Komentar

News Feed