oleh

Banggalah dengan yang Halal (Habis)

Paradigma hubungan antara makanan dan keshalehan seseorang juga tersirat dari doa saat seseorang hendak mengkonsumsi sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah atas riwayat Ibnu Sunni dan Thabrani yang berbunyi:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ : ” اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، بِسْمِ اللَّهِ ” .
“Rasulullah berdoa jika didekatkan kepadanya satu hidangan dengan doa; ya Allah berikanlah kami keberkahan atas rezeki yang telah Engkau berikan dan jauhkan kami dari azab neraka”.


Doa tersebut sudah banyak dihafal, bahkan oleh setiap anak Muslim yang berusia di bawah balita. Akan tetapi kadangkala pupus dari renungan kita pesan di balik doa tersebut. Saat makanan sudah tersaji di meja makan, kemudian siap untuk disantap, lalu doa yang dibaca adalah berikan keberkahan dan jauhkan dari azab neraka. Bagaimana dua permohonan yang dipanjatkan yang seolah tidak berhubungan satu sama lain. Akan tetapi jika dilihat dalam rangkaian tulisan ini baru jelas bahwa makanan yang dimakan memiliki pengaruh besar pada baik-buruknya seseorang. Makanan yang halal memudahkan seseorang menjadi baik dan mengantarkannya menuju syurga, sebaliknya makanan yang haram memudahkan seseorang menjadi tidak baik dan menjerumuskannya ke dalam neraka. Hal tersebut juga diperkuat dengan hadits lain yang berbunyi:
كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به
“Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih berhak terhadapnya.” (H.R. Ahmad)


Di samping itu, Islam juga memberikan training penguatan diri yang luar biasa melalui ibadah puasa baik melalui puasa wajib setiap Ramadhan dan puasa Sunnah pada hari Senin dan Kamis. Bagaimana seseorang saat menjalankan puasa, dilatih untuk bisa menghindarkan diri pada siang hari dari hal-hal yang halal. Orang yang berpuasa meninggalkan makanan halal yang diperolehnya dengan cara yang baik. Hal tersebut mampu dilakukannya dengan baik. Puasa yang dilakukan secara berkala memberikan bekal mental yang besar sehingga ungkapan di atas “jangankan mencari yang halal, mencari harta yang haram saja sulit”, kemudian diganti dengan ungkapan yang berbunyi; “jangankan meninggalkan yang haram, meninggalkan yang halal sekalipun jika diperintahkan Allah, seorang Muslim dapat melakukannya”. Kepada para orangtua, doa yang selalu dipanjatkan agar mendapatkan anak yang “qurrata a’yun” (menjadi penyejuk hati) hendaknya diiringi dengan memberikan nafkah terbaik yang dijamin kehalalannya. Kepada para ibu, cita-cita membangun keluarga yang penuh ketenangan dan rasa cinta hendaknya dimulai dengan bersyukur dan bangga kepada bapak yang berjuang dengan hanya memberikan yang halal sebagai nafkah keluarga.

Kepada anak-anak, sikap bangga kepada orangtua yang selalu komitmen dengan memberikan nafkah yang halal akan memudahkan mereka menjadi anak-anak yang berprestasi di dunia dan di akhirat. Doa dan harapan agar setiap keluarga tidak hanya berkumpul di dunia tetapi juga berkumpul di akhirat dalam syurga harus dimulai dengan kehalalan makanan yang setiap hari dikonsumsi bersama. Oleh karena itu banggalah terhadap yang halal karena hal itu akan menjadi sendi-sendi yang mengabadikan kebersamaan sebuah keluarga melintasi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.


Sejarah telah membuktikan bagaimana para orangtua dahulu cukup sukses dalam mengantarkan anak-anaknya dengan masa depan yang cerah. Setidaknya hal tersebut ditunjukkan dengan keberhasilan mereka menjadikan anak-anaknya lebih hebat dari para orangtua sendiri. Hal yang kadang luput dari perhatian terkait dengan pendidikan anak adalah garansi kehalalan makanan yang orangtua berikan kepada anak-anaknya. Nafkah yang mereka berikan melalui proses yang jelas “dari hulu ke hilir”. Nafkah tersebut hampir tidak terkontaminasi dengan unsur-unsur yang diharamkan. Setidaknya sejarah tersebut menjadi cerminan bagaimana membangun kesuksesan keluarga dengan nafkah halal yang diberikan oleh para orangtua kepada anak-anaknya.

Komentar

News Feed