oleh

Manusia Makhluk Spesial (Habis)

Kelebihan yang dimiliki justru beriringan dengan kemungkinan adanya kerusakan yang lebih cepat. Ada kemiripan antara manusia dengan smartphone yang harganya paling mahal. Hal tersebut sudah Allah isyaratkan dalam al-Qur’an surat at-Tin ayat 5 yang berbunyi:
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
“Kemudian Kami kembalikan manusia ke tempat yang serendah-rendahnya.”


Bagaimana sebaiknya manusia melangkah dalam hidup? Jawabannya tidak lain adalah mengikuti buku panduan hidup berupa al-Qur’an. Setiap manusia perlu mengosongkan dirinya, melapangkan jiwa dan hatinya untuk bisa menerima sepenuh hati apa yang Allah sampaikan dalam buku panduan kehidupan. Setiap ayat adalah petunjuk teknis hidup menuju kebahagiaan hakiki. Setiap surat adalah tanda cinta dan kasih sayang Allah kepada manusia agar cinta dan kasih sayang-Nya abadi. Setiap juz dari al-Qur’an adalah sajian dan asupan ruh manusia yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Satu kumpulan ayat, surat dan juz menjadi Mushaf Al-Qur’an adalah buku panduan yang mulia dan akan memuliakan manusia hingga bertemu dengan Zat yang Maha Mulia dalam keadaan yang mulia. Dengan seperti ini maka atas izin Allah, setiap kita akan mampu menjaga label “ahsanu taqwim” pada saat kita diciptakan dengan label yang sama kita kembali kepada Zat yang Maha Pencipta.


Secara tegas Allah sudah menyatakan bahwa komitmen terhadap al-Qur’an akan menjamin kebahagiaan dalam hidup dan kelalaian dengan meninggalkan al-Qur’an akan berbuah penyesalan yang tidak ada bandingannya. Dalam surat Thaha: 123-124 Allah berfirman:
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”


Ayat tersebut memberikan arahan kepada manusia, bahwa upaya mengikuti petunjuk Allah akan mendapatkan jaminan kebahagiaan saat ini (di dunia), dan nanti (di akhirat). Sebaliknya, keengganan dan penolakan terahadap al-huda (al-Qur’an) akan berbuah kehidupan dunia yang sempit dan kehidupan akhirat yang menyedihkan. Jika diperhatikan dan direnungkan, banyak di sekitar kita, orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan karena komitmennya untuk mengikuti petunjuk al-Qur’an dengan segala kesederhaan ilmu dan keterbatasan hartanya. Mereka mendapatkan kemudahan dalam mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah dan berbakti kepada orangtua. Inilah sebenarnya kebahagiaan hidup sejati. Sebaliknya, mereka yang menolak dan menjauhkan diri dari al-Qur’an maka ia akan menjalani hidup yang penuh dengan kesempitan dan kesulitan. Harta berlimpah dan pengetahuan luas yang mereka miliki tidak menambah ketundukan mereka kepada Allah, hingga pada akhirnya hal itu justru menggiring mereka pada kehidupan yang sulit dan sempit.


Dari ilustrasi di atas, maka jelas kebahagiaan hidup hakiki baik di dunia ataupun di akhirat ditentukan oleh komitmennya terhadap al-Qur’an. Manusia sebagai makhluk spesial, sudah mendapatkan bimbingan spesial, dan kelak akan kembali kepada Allah dengan penyambutan dan penghargaan yang spesial.

Komentar

News Feed