oleh

Visi Sederhana

-KHAZANAH-26 views

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Dia selalu membersamai Rasulullah saw. Dia selalu meyakini Rasulullah saw. Saat semua orang terdapat keraguan pada Rasulullah saw. Dia menjadi penguat Rasulullah saw dan umat saat Isra Miraj, Hijrah, Hudaibiyah, Tabuk dan wafatnya Rasulullah saw. Dia selalu melampaui amal kebaikan seluruh Sahabat ra dan manusia .

Umar Bin Khatab ingin melampauinya. Berlomba di pagi hari. Berlomba di perang Tabuk. Namun tak bisa melampauinya. Dalam Hudaibiyah dan wafatnya Rasulullah saw, Umar dalam kondisi kegamangan maka dia yang menguatkannya. Maka sangat pantas bila beliau menjadi kekasih hamba yang paling mulia.

Ada hikayat sebelum keislamannya. Saat berada di Syam. Dia bermimpi ada seseorang yang menemuinya, menginformasikan bahwa telah datang Rasulullah saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Maka bergegaslah dia kembali ke Mekah untuk menjadi pendukungnya.

Kehadirannya menjadi titik balik umat. Penyelamat saat terjadi krisis kepercayaan. Menyelamatkan dari krisis kepemimpinan yang sering menghancurkan sebuah umat. Menyelamatkan krisis kepercayaan ketika banyak pembelotan umat atas kehadiran nabi palsu.

Dia terus menjaga ucapan Rasulullah saw, ketika para Sahabat meragukan kemampuan panglima perang yang sudah diangkat Rasulullah saw. Dia terus melanjutkan kebiasaan Rasulullah saw yang menyuapi seorang nenek yahudi yang terus mencaci Rasulullah saw. Hingga akhirnya sang nenek sadar bahws yang menyuapinya bukan Rasulullah saw. Akhirnya sang nenek memeluk Islam.

Siapakah manusia yang langsung masuk surga bersama Rasulullah saw? Dalam sebuah riwayat, dialah orangnya. Dia membersamai Rasulullah saw di dunia dan akhirat. Banyak yang meragukan kemampuannya, karena mudah menangis saat shalat dan ibadah lainnya. Para Sahabat meminta agar dia digantikan oleh Umar Bin Khatab. Namun Rasulullah saw tetap teguh menunjuk dia sebagai pengganti imam shalat.

Suatu hari dia bersama Handzalah menemui Rasulullah saw. Dia merasa sebagai orang munafik. Ingat akhirat dan melihat singgasana langit ketika bersama Rasulullah saw. Namun kemudian dia bergelut dengan keluarga dan dunia kembali. Ada ketidak selarasan sikap, ini yang dikhawatirkannya. Rasulullah saw memberi wejangan bahwa hidup memang pergulatan membangun akhirat dan peradaban di dunia.

Para malaikat akan menyambut manusia di jalan-jalan dan saat tidur, bila hatinya terus terkoneksi dengan Allah, walapun kiprahnya soal keduniaan. Itulah wejangan yang menghiburnya dari Rasulullah saw. Ketika semua bergembira dengan Futuh Mekah dan Haji Wada, namun dia sendirian yang menangis. Tandanya, tugas Rasulullah saw sudah usai, lalu dengan siapa dia bisa bersahabat? Itu yang membuat dia terus menangis.

Saat semua tak mempercayai wafatnya Rasulullah saw. Hanya dia yang mempercayai. Hanya dia yang bisa menghibur dan menyadarkan para Sahabat ra bahwa Rasulullah saw juga manusia yang kembali kepada Penciptanya.

Prinsip hidupnya sangat sederhana. Membenarkan apa yang difirmankan Allah. Membenarkan apa yang disabdakan Rasulullah saw. Hanya itu yang memenuhi hati, akal, jiwa dan seluruh kiprah kehidupannya. Prinsip hidup yang sederhana namun menghasilkan lompatan menjadi kekasih Rasulullah saw.

Dialah Abu Bakar. Yang diberi gelar tertinggi oleh Allah dan Rasulullah saw sebagai Abu Bakar Shidiq. Dia hanya membenarkan segala yang datangnya dari Allah dan Rasulullah saw. Begitu mudah prinsip hidupnya. Begitu sederhana nilai kehidupannya. Menjadi pribadi yang menduplikasi Rasulullah saw. Hanya itu saja dan sangat sederhana sekali.

Visi hidup kita terlalu rumit, kompleks dan ngejelimet. Agenda hidup terlalu menjulang ke langit tapi bisa dilampaui. Padahal buat saja yang paling sederhana. Membenarkan Allah dan Rasulullah saw, itu saja. Maka kita akan bisa melampaui seluruh prestasi dan kehebatan manusia yang pernah ada.

Komentar

News Feed